Jun 13, 2012

Akal dan Wahyu dalam Ilmu Ekonomi Islam; Tinjauan Sejarah Pemikiran

Akal dan Wahyu dalam Ilmu Ekonomi Islam; Tinjauan Sejarah Pemikiran

Oleh: Rahmat Fajri

Pengampu Matakuliah Sosiologi Islam
Fakultas Ushuluddin Studi Agama, dan Pemikiran Islam
UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Abstrak

Setidaknya ada dua cara yang berbeda dalam melihat hubungan akal dan wahyu. Pertama, dalam nalar sekuler keduanya dipisahkan (dikhotomi) sehingga keduanya dalam posisi konfrontasi yang tidak bisa dipertemukan. Sementara, sebagai agama wahyu Islam menerima kedua-duanya sebagai sumber pengetahuan. Akal merupakan elemen dalam ketika berbicara tentang wahyu. Dengan menggunakan gagasan Max Weber (1864-1920)  yang menengarai bahwa munculnya rasionalisme ekonomi  merupakan hasil dari Protestantisme abad ke-16 dan dijadikan akar utama kapitalisme namun dalam perkembangannya rasionalitas etis keagamaan ini luntur dan menjadi rasionalitas instrumental  (Zweckrationalitat) saja. Hal ini berbeda dengan rasionalisme ekonomi Islam yang dapat dikategorikan dalam rasionalitas yang berorientasai nilai (Wertrationalitat), karena pertimbangan utility, efisiensi, profit dan sebagainya tidak semata-mata menjadi prioritas akan tetapi dilandasi komitmen terhadap nilai-nilai yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah, baik dalam aktivitas ekonomi maupun analisa ilmu ekonomi Islam.

Kata Kunci: akal (rasio, intelek), wahyu, rasionalisme, empiris, nilai-nilai, ekonomi Islam.


A.    Pendahuluan

Agama  wahyu mengajarkan  dua jalan untuk mendapatkan pengetahuan. Pertama, melalui jalan wahyu, yakni melalui komunikasi dari Tuhan kepada manusia, dan kedua dengan jalan akal, yakni memakai kesan-kesan yang diperoleh pancaindera sebagai bahan pemikiran untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan. Pengetahuan yang diperoleh melalui wahyu diyakini sebagai pengetahuan yang absolut, sementara pengetahuan yang diperoleh melalui  akal diyakini sebagai pengetahuan yang bersifat relatif, yang memerlukan pengujian terus menerus, mungkin benar dan mungkin salah (Harun Nasution, 1986: 1).  Berbeda dengan agama wahyu (revelation), agama bumi (ardi) berangkat dari pengetahuan yang diperoleh melalui perenungan, untuk mendapatkan  kebenaran dan pencerahan.

Di  zaman kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, timbul pertanyaan, pengetahuan mana yang lebih dipercaya, pengetahuan yang diperoleh melalui akal, pengetahuan melalui wahyu, atau pengetahuan yang diperoleh melalui kedua-duanya.  Karena itu,  masalah hubungan  akal dan wahyu ini merupakan masalah yang paling masyhur dan paling mendalam dibicarakan dalam sejarah pemikiran manusia, telah lebih dua ribu tahun (Harun Nasution, 1986: 1). Di dalam sejarah pemikiran Islam, masalah akal dan wahyu pernah menjadi polemik terutama di kalangan teolog dan filosof muslim. Dan sejak rasionalisme  dan ilmu pengetahuan Barat masuk ke dunia muslim pada permulaan abad ke sembilan belas, para pemikir pembaharuan Islam  mulai memusatkan perhatian mereka kepada kekuatan akal manusia, pintu ijihad  yang sudah berabad-abad tertutup dinyatakan  terbuka, bahkan mereka  tegaskan  sebenarnya tidak pernah tertutup.

Menyadari pentingnya akal dan wahyu, dalam ekonomi Islam digunakan  maqasid as-syari’ah  atau maslahah yang menekankan terjaminnya kebutuhan  hidup manusia, dua di antaranya adalah mewujudkan terjaganya  al-‘aql (intellect), dan keyakinan (ad-din) (Fahim Khan, 1992:  73-74).  Dalam hal ini  wahyu  merupakan sumber pengetahuan yang didasarkan kepada keimanan kepada Allah SWT.

Makalah ini akan membahas akal dan wahyu dalam Islam, dan bagaimana konteks historis penggunaan keduanya dalam ekonomi Islam.

B.    Akal

Al-‘aql  yang sudah menjadi bahasa Indonesia, akal, dalam bentuk kata benda tidak terdapat dalam al-Qur’an. Al-Qur’an  hanya membawa bentuk kata kerjanya dalam 45 ayat, yakni ‘aqaluh, ta’qilun, na’qilu, ya’qiluha  dan ya’qilun. Berbagai macam kata derifatif darinya  dengan arti memahami dan mengerti (Harun Nasution, 1986: 5). Sebagai contoh dapat disebut ayat-ayat berikut:

 “Apakah  kamu masih mengharapkan  mereka akan percaya kepadamu,   padahal segolongan dari mereka mendengar firman Allah, lalu mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui” (S. al-Baqarah: 75).

“Maka apakah mereka tidak berjalan  di muka bumi, lalu mereka       mempunyai  hati yang dengan itu mereka dapat memahami atau mempunyai telinga yang  dengan itu mereka dapat mendengar? Karena sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta ialah hati yang di dalam dada” (S. al-Hajj:46).

“Dan perumpamaan-perumpamaan ini Kami  buatkan untuk manusia, dan tiada  yang memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu.”(S. al-‘Angkabut: 43).

Pengertian ‘aqala  dalam arti mengerti, memahami dan berfikir sesungguhnya  tidak dilakukan melalui akal yang berpusat di kepala  akan tetapi melalui kalbu yang berpusat di dada, seperti yang terdapat dalam surat al-Hajj  ayat 46 di atas.

Menurut pemahaman Izutzu, kata ‘aql di zaman jahiliah digunakan dalam arti kecerdasan praktis (practical intelligence) yang dalam istilah psikologi modern  disebut  kecakapan memecahkan masalah (problem solving capacity). Dengan demikian, orang berakal adalah orang yang mempunyai kecakapan untuk menyelesaikan masalah, memecahkan problem yang dihadapi dan dapat melepaskan diri dari bahaya yang mengancam. Lebih lanjut menurutnya, kata ‘aql  mengalami perubahan arti setelah masuk ke dalam filsafat Islam. Hal ini terjadi disebabkan pengaruh filsafat Yunani  yang masuk dalam pemikiran Islam, yang mengartikan ‘aql  sama dengan nous yang mengandung arti daya berfikir yang terdapat dalam jiwa manusia. Pemahaman dan pemikiran tidak lagi melalui al-qalb di dada akan tetapi melalui al-aql di kepala (Harun Nasution, 1986: 7-8).

Pengaruh filsafat Yunani terhadap filosof-filosof muslim terlihat  dalam pendapat mereka  tentang akal yang dipahami sebagai salah satu daya dari jiwa (an-nafs/ ar-ruh) yang terdapat dalam diri manusia. Seperti  Al-Kindi (796-873) yang terpengaruh Plato, menjelaskan bahwa pada jiwa manusia terdapat tiga daya, daya bernafsu (al-quwwah asy-syahwatiyah) yang berada di perut, daya berani (al-quwwah al-ghadabiyyah) yang bertempat di dada dan  daya berfikir (al-quwwah an-natiqah) yang berpusat di kepala.

Sementara itu, di kalangan teolog muslim, mengartikan akal sebagai daya untuk memperoleh pengetahuan, seperti  pendapat Abu al-Huzail, akal adalah daya untuk memperoleh pengetahuan, daya yang  membuat  seseorang dapat  membedakan dirinya dengan benda-benda lain, dan mengabstrakkan benda-benda yang ditangkap oleh panca indera. Di kalangan Mu’tazilah akal memiliki fungsi dan tugas  moral, yakni di samping untuk memperoleh pengetahuan, akal juga memiliki daya untuk membedakan antara kebaikan dan kejahatan, bahkan akal merupakan petunjuk jalan bagi manusia dan yang membuat manusia menjadi pencipta perbuatannya sendiri (Harun Nasution, 1986: 12).

Dengan demikian akal dalam pengertian Islam, bukanlah otak, akan tetapi daya berfikir yang terdapat  dalam jiwa manusia, daya untuk memperoleh pengetahuan dengan memperhatikan alam sekitarnya. Dalam pengertian inilah akal yang dikontraskan degan wahyu yang membawa pengetahuan dari luar diri manusia, yakni dari Allah SWT.

Seperti sudah disinggung di atas, para pembaharu menjunjung tinggi pada kekuatan akal. Salah satunya adalah Muhammad Abduh yang berpendapat  bahwa al-Qur’an  melalui ayat-ayatnya berbicara tidak saja kepada hati, akan tetapi juga kepada akal manusia. Karena itu, Islam adalah agama yang rasional. Mempergunakan akal adalah salah satu dari dasar-dasar Islam. Seseorang belum dianggap sempurna imannya kalau tidak didasarkan kepada akal. Agama dan akal adalah “bersaudara”. Baginya wahyu tak dapat membawa hal-hal yang bertentangan dengan akal, sehingga jika ada zahir ayat yang bertentangan dengan akal maka ayat tersebut harus dicari interpretasi yang sesuai dengan pendapat akal. Kepercayaan terhadap kekuatan akal adalah dasar peradaban suatu bangsa yang ingin maju. Dengan pemikiran akal akan menghasilkan  ilmu  pengetahuan (Harun Nasution, 1992: 65).

Ilmu pengetahuan modern  yang berdasarkan hukum alam  (natural laws = sunnatullah) tidak bertentangan dengan  Islam yang sebenarnya. Sebab hukum  alam sendiri merupakan ciptaan Allah, sedangkan wahyu juga berasal dariNya. Di zaman keemasan, ilmu pengetahuan berkembang di bawah naungan pemerintahan-pemerintahan Islam pada waktu itu. Dan ilmu pengetahuan menjadi salah satu sebab dari kemajuan umat Islam di masa lalu  maupun kemajuan Barat  sekarang (Harun Nasution, 1986: 66).

Sesungguhnya  ayat-ayat al-Qur’an dalam mendorong  manusia untuk berfikir dan menmpergunakan akalnya tidak hanya memakai kata ‘aqala saja tetapi  kata-kata berikut (Harun Nasution, 1992: 39):

1.    Nazara yang berarti melihat secara abstrak dalam arti berfikir dan merenungkan.

“Maka apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana  Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikit pun?. Dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan  padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata.” (S. Qaf: 6-7).

“Maka apakah mereka tidak memperhatikan unta bagaiaman ia diciptakan; dan langit bagaimana ia ditinggikan? Dan  gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan?. Dan bumi bagaimana  ia dihamparkan? (S. al-Ghasyiyah: 17-20).

2. Tadabbara  = merenungkan  (S. Shad: 29; Muhmmad: 24)
 
3. Tafakkara = berfikir  (S. an-Nahl: 68-69)

4. Faqiha = mengerti, faham ( S. al-Isra’: 44).

5. Tazakkara yang berarti mengingat, memperoleh peringatan, mendapat pelajaran, memperhatikan dan mempelajari. (S. an-Nahl: 17)

6. Fahima = memahami.

Semua ayat-ayat al-Qur’an yang memakai kata-kata tersebut mengandung anjuran, dorongan dan perintah agar manusia banyak berfikir dan menggunakan  akalnya.

Di samping itu, hadis sebagai sumber kedua dalam Islam, juga memberikan kedudukan yang tinggi pada akal, seperti hadits : “Agama adalah penggunaan akal, tiada agama bagi orang yang tak berakal.” Dan hadis Qudsi yang menggambarkan Allah bersabda kepada  akal:

 “Demi kekuasaan dan keagunganKu tidaklah kuciptakan makhluk lebih mulia dari engkau. Karena engkaulah Aku mengambil dan memberi dan karena engkaulah Aku menurunkan pahala dan menjatuhkan hukuman” (Harun Nasution, 1992: 48-49).


C.    Wahyu

Kata al-wahy yang berarti suara, kecepatan,  api, bisikan, isyarat, tulisan dan kitab adalah kata arab asli, bukan kata pinjaman dari bahasa asing. Selanjutnya al-wahy mengandung arti pemberitahuan secara tersebunyi dan dengan cepat. Namun arti yang paling terkenal adalah “apa yang disampaikan  Tuhan  kepada nabi-nabi”. Yakni sabda Tuhan yang disampaikan kepada orang pilihanNya agar diteruskan kepada manusia untuk dijadikan pegangan  hidup (Harun Nasution, 1992: 15). Firman Allah itu mengandung petunjuk  dan pedoman yang memang diperlukan oleh umat manusia dalam menjani hidup di dunia dan di akhirat kelak. Dalam Islam wahyu Allah itu disampaikan kepada nabi Muhammad saw yang terkumpul semuanya daam al-Qur’an.

Adapun cara penyampaian wahyu, atau komunikasi Tuhan dengan nabi-nabi melalui tiga cara: (1) Melalui jantung hati seseorang dalam bentuk ilham; (2) Dari belakang tabir, seperti yang terjadi pada nabi Prof. Dr. H. Musa Asy'arie; dan (3) Melalui utusan yang dikirimkan Tuhan dalam bentuk  malaikat.

Wahyu yang turun kepada nabi Muhammad adalah dalam bentuk ketiga tersebut, seperti dijelaskan dalam ayat sebagai berikut:

“Dan sesungguhnya al-Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh ar-Ruh  al-Amin (Jibril) ke  alam  hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas. Dan Sesungguhnya al-Qur’an itu benar-benar dalam Kitab-kitab orang       yang dahulu.( S. Asy-Syu’ara: 192-

“Katakanlah: “Ruhul Qudus (Jibril) menurunkan Al-Qur’an itu dari Tuhanmu dengan benar, untuk meneguhkan hati orang-orang  yang telah beriman, dan menjadi petunjuk serta kabar  gembira bagi orang-orang yang  berserah diri kepada Allah.” ( S. an-Nahl: 102).

Ayat-ayat tersebut menggambarkan dengan jelas bahwa wahyu yang turun kepada nabi Muhammad adalah melalui perantaraan malaikat Jibril bukan melalui ilham ataupun dari belakang tabir. Di sini terjadi komunikasi antara Tuhan yang immateri dan manusia yang bersifat materi yang dalam filsafat Islam dan tasauf mengakui adanya komunikasi itu. Seperti pendapat Ibn Sina  yang mengatakan bahwa seorang nabi adalah orang yang dianugrahi  Tuhan akal yang mempunyai daya tangkap luar biasa, sehingga tanpa latihan ia dapat mengadakan komunikasi langsung dengan Jibril. Akal demikian mempunyai kekuatan suci (qudsiyah) dan diberi nama hads. Tidak ada akal yang lebih kuat  dari pada akal  yang demikian, hanya nabi-nabi saja yang memperoleh akal yang sedemikian kuat. Baginya, filosof  ada di bawah nabi dalam perolehan akalnya, sehingga filosof hanya bisa mendapat ilham saja (Harun Nasution, 1992: 17-18).

Demikian juga dalam tasauf keyakinan dapat berkomunikasi dengan Tuhan dalam bentuk ilham hanya bisa diperoleh dengan cara mengasah daya rasa manusia yang ada dalam hati sanubari  manusia. Kaum sufi  mempertajam daya rasa atau kalbunya dengan menjauhi hidup kematerialan dan  mensucikan jiwa, misalnya dengan memperbanyak ibadat, memperbanyak zikir, melakukan salat, puasa dan membaca al-Qur’an.

Hal-hal yang berkaitan  dengan hidup kemasyarakatan dikandung dalam ayat-ayat madaniyah, yaitu ayat-ayat yang diturunkan pada periode setelah hijrahnya Nabi ke Madinah yang jumlahnya 1456 ayat atau 23,35% dari seluruh ayat al-Qur’an. 70 ayat di antarnya adalah berhubungan dengan  perekonomian (perdagangan), jual beli, sewa menyewa, pinjam meminjam, gadai, perseroan, kontrak dan lain-lain; 10 ayat berkaitan tentang orang kaya dengan orang miskin. Dalam ayat-ayat itu  dijelaskan ketentuan-ketentuan yang harus dipatuhi oleh umat Islam dalam mengatur hidup perekonomian, yang salah satunya adalah ketentuan haramnya riba dan wajibnya keadilan ditegakkan (Harun Nasution, 1992: 27-28).

D. Penggunaan Akal dan Wahyu  dalam Ilmu Ekonomi Islam

Seperti sudah dijelaskan di atas bahwa Islam sangat menjunjung tinggi  akal bagi manusia dalam menyelesaikan problema hidup yang dihadapi manusia. Meskipun demikian, Islam juga meyakini dan bahkan menjunjung tinggi sumber pengetahuan yang didapat melalui wahyu. Wahyu dan akal tidak ada pertentangan, sehingga dapat dipahami antara keduanya ada hubungan yang tidak bisa dipisahkan, terlebih lagi adanya keyakinan bahwa akal diciptakan oleh Tuhan yang diberikan hanya untuk manusia, dan wahyu pada saat yang sama adalah juga berasal dari Tuhan. Dengan demikian, dalam menjalani kehidupan umat Islam menggunakan dua anugerah Allah SWT  yang sangat berharga tersebut, termasuk dalam perekonomian. Ilmu Ekonomi Islam berbeda dengan ilmu ekonomi konvensional yang semata-mata berpijak pada akal/rasio dengan mengesampingkan Tuhan, seperti yang terlihat dalam teori mekanisme pasar Adam Smith, yang mengandung konsep invisible hands.

Jika merunut pemikiran di Barat, Max  Weber (1864-1920) menggunakan kata “rasionalisme” sebagai istilah seni, dipakai untuk menggambarkan suatu sistem ekonomi yang tidak didasarkan pada kebiasan atau tradisi namun pada penyesuaian sarana yang sistematis dan cermat untuk mencapai profit. Rasionalisme ekonomi yang dianggap lebih memiliki nilai moral dan sosial ini merupakan hasil dari revolusi agama yang terjadi pada abad ke enam belas (R.H. Tawney, 1-2; George Ritzer dan Douglas J.Goodman, 2004: 35-37; Theodore Haak, dkk, 2003:  561-562). Munculnya Protestan terutama yang digerakkan oleh  Johanes Calvin (Calvinisme). Weber yang dikategorikan dalam  aliran historis bertitik tolak dari asumsi dasar bahwa rasionalitas adalah unsur pokok yang memiliki nilai dan pengaruh yang universal. Menurutnya, hanya di Barat lah aktifitas mencari laba diselenggarakan secara lebih terorganisir dan rasional. Rasionalitas ekonomi ini merupakan akar utama sistem perekonomian kapitalisme. Perilaku ekonomi kapitalistis  bertolak dari harapan akan keuntungan  yang diperoleh dengan  mempergunakan kesempatan bagi tukar-menukar untuk mendapatkan untung secara damai (Deliarnov, 2007: 134).

Meskipun demikian,  sejak abad ke enam belas bukan saja muncul teologi baru tersebut, akan tetapi juga muncul kecenderungan perubahan dalam doktrin politik, yaitu teori tentang negara sebagai kesatuan yang cukup diri (self sufficient), dan perubahan kosmologi baru, yaitu pandangan  yang ilmiah dan pandangan metafisika baru (Kuntowijoyo, 2005: 157-158). Dasar-dasar peradaban hingga sebelum abad ke delapan belas, didasarkan atas kewajiban-kewajiban kepada Tuhan, dan kewajiban kepada penguasa, sedangkan  mulai abad ke delapan belas peradaban didasarkan atas cita-cita tentang hak: hak-hak pribadi, kemerdekaan berbicara dan berpendapat, hak sebagai warga negara dan hak sebagai manusia (ibid).

Perubahan pandangan tentang alam (kosmologi) adalah sebagai berikut:  alam dalam pandangan abad ke tujuh belas adalah suatu yang misterius, berbahaya, tidak harmonis, penuh keajaiban, namun demikian  alam haruslah rasional  karena Tuhan adalah akal yang abadi, mereka menarik konsep yang logis dengan membangun logika  deduktif. Atau dengan penjelasan lain, bahwa abad tujuh belas cenderung menyusun sistem filsafat dengan deduksi-deduksi dan hipotesa, yang diwakili oleh Descartes, Leibniz, Malebranche, Locke dan Spinoza. Sementara itu abad delapan belas memandang alam sebagai realitas substansial, mengenal tingkah laku alam yang harmonis dari benda-benda materil; dan Tuhan haruslah seorang insinyur karena alam adalah sebuah mesin, mereka menarik hukum-hukum alam yang disamakan dengan tingkah laku alam. Pandangan ini bercermin pada ilmu pengetahuan alam dengan tradisi  Newton. Abad tujuh belas adalah abad aksioma sementara  di abad delapan belas bergeser ke kenyataan-kenyataan (empiris). Abad tujuh belas didominasi oleh cara berpikir Cartesian yang bertitik tolak dari ilmu pasti dan abstraksi-abstraksi, sementara abad delapan belas  memakai cara berpikir Francis Bacon atau Newton, yang berangkat dari ilmu alam dan realitas empiris (Kuntowijoyo, 2005: 159-160).

Peradaban Eropa di zaman pertengahan dengan sistem teologisnya yang tidak sesuai  lagi, mendorong pencarian dasar baru yang tidak berdasarkan revelation dan faith akan tetapi berdasarkan reason. Perdamaian yang  dahulunya didasarkan pada kepentingan  agama sekarang  didasarkan pada kepentingan borjuasi dalam melancarkan aktifitas perdagangan dan industri  di antara negara-negara Eropa. Hingga reformasi filsafat asketis mendominasi Eropa, yang kemudian digantikan oleh filsafat industrial. Filsafat asketis adalah filsafat yang menekankan pada pengekangan dan berusaha menghilangkan keinginan-keinginan. Kebahagiaan adalah keadaan pikiran dan dapat dicapai langsung dengan pikiran. Filsafat ini memberi kedalaman yang lebih besar kepada emosi serta menghasilkan orang-orang yang penuh keyakinan. Sementara itu, filsafat industrial adalah filsafat kemajuan yang berusaha mewujudkan keinginan-keinginan  dengan menghadapi keadaan sekitar, yang akhirnya dapat mempersatukan tindakan untuk menghasilkan tingkatan sosial yang tinggi. Konsekwensi dari filsafat industrial ini, kehidupan monastis dianggap rendah dan tidak sesuai sehingga banyak biara-biara disita. Di Eropa antara 1830-1835, 3000 biara dihapuskan, Joseph II dari Austria menindas lebih dari 184 biara, dan di Polandia pada tahun 1841, 187 biara dihapuskan (Kuntowijoyo, 2005: 161-162). 

Kemunculan rasionalisme yang dimotori oleh revolusi keagamaan di abad enam belas tersebut kemudian dianggap berafinitas dengan semangat kapitalisme. Namun, hingga akhir abad ke tujuh belas, ilmu ekonomi  sebagai cabang ilmu tersendiri belum muncul. Latar belakang  peradaban, yang menuju evolusi penggunaan rasio ketimbang pemakaian wahyu itu lah yang melatarbelakangi munculnya ilmu ekonomi  di dunia Barat.

Baru pada abad ke delapan belas, Adam Smith (1729-1790) muncul sebagai pionir dalam pemikiran bidang ekonomi dengan bukunya The Wealth of Nations ( terbit tahun 1776). Meskipun diakui, bahwa  sebelumnya pemikiran-pemikiran tentang ekonomi sudah sangat berkembang sejak abad ke lima belas, saat terjadi revolusi pertanian di Eropa. Oleh Karl Marx, gagasan-gagasan ekonomi  Smith ini dianggap sudah klasik, karena sesungguhnya gagasan yang dikemukakannya sudah pernah dibahas dan dibicarakan oleh pakar-pakar ekonomi jauh sebelumnya. Misalnya paham individualisme tidak banyak berbeda dengan paham hedonisme yang dikembangkan oleh Epicurus pada masa Yunani kuno. Begitu juga pendapatnya agar pemerintah melakukan campur tangan seminimal mungkin dalam perekonomian (laissez faire laissez passer), biarkan saja perekonomian berjalan dengan wajar tanpa campur tangan pemerintah, nanti akan ada suatu tangan tak kentara (invisible hands) yang akan membawa perekonomian ke arah keseimbangan, sudah dibicarakan oleh Francis Quesnay (1694-1774)  ( atau oleh nabi Muhammad saw dan Ibn Taimiyah!) sebelumnya. Karena itu  sebagai “musuh” bebuyutannya, Karl Marx menyebut aliran Smith, sebagai Mazhab Klasik (Deliarnov, 2007: 27-32).

Agaknya dorongan untuk melakukan aktifitas ekonomi secara rasional adalah dikeluarkannya doktrin tentang kehalalan bunga Bank  oleh Johanes Calvin pada abad enam belas, mampu  menggiatkan orang-orang Kristen untuk turut serta mengambil bagian dalam proses perdagangan dan industrialisasi yang saat itu sedang lesu akibat larangan pemungutan bunga dari abad pertengahan (J. Verkuyl, 1982: 121). Namun demikian ajaran berhemat Calvin  yang menekankan  untuk pengabdian demi kerajaan Allah, dalam perkembangan ekonomi kapitalis telah menyimpang, yakni  hemat dengan tujuan agar bisa menumpuk kekayaan semata-mata (J. Verkuyl, 1982: 120). Artinya perkembangan ekonomi kapitalis sudah terlepas dari  spirit keagamaan.

Seperti ditunjukkan Karl Marx di atas bahwa  sesungguhnya pemikiran ekonomi Adam Smith tidak sepenuhnya “orisinal”, di sini perlu dikembangkan pertanyaan  bagaimana pandangannya tentang ekonomi Islam yang  sudah dipraktikkan  oleh umat Islam, sejak sepuluh abad sebelumnya. 

Adam Smith  dalam bukunya The Wealth of Nations  menggambarkan  bangsa Arab dan Tartar sebagai bangsa yang memiliki perekonomian maju yang ditandai dengan mata pencahariannya sebagai penggembala dan pedagang. Bangsa Arab yang dimaksud adalah Rasulullah Muhammad saw dan khulafaur rasyidin. Bangsa Arab ini dikontraskan dengan  masyarakat Indian di Amerika Utara yang mata pencahariannya adalah berburu, yang tingkat perekonomiannya terbelakang (Adiwarman A. Karim,  2001: 14). Buku karya Adam Smith tersebut diduga banyak mendapat inspirasi dari bukunya Abu Ubaid (838 M), al-Amwal (Ibid).

Namun demikian, adalah kenyataan bahwa buku-buku teks ekonomi Barat  hampir tidak pernah menyebutkan peranan kaum muslimin dalam pemikiran ekonomi. Hal ini terjadi menurut  M.Umer Chapra, akibat kesalahan umat Islam sendiri yang tidak mengartikulasikan secara memadai kontribusi kaum muslimin, dan Barat pun memiliki andil, karena tidak memberikan penghargaan yang layak atas kontribusi peradaban lain bagi kemajuan ilmu pengetahuan manusia. Sejarawan Barat berasumsi bahwa periode antara Yunani dan Skolastik merupakan periode fakum dan tidak produktif. Seperti Joseph Schumpeter yang memulai menulis sejarah ekonomi dari para filosof Yunani dan langsung melakukan loncatan jauh selama 500 tahun, ke zaman St. Thomas Aquinas (1225-1274 M), dengan mengabaikan peranan kaum muslimin (Adiwarman A. Karim,  2001: 8-9).

Sejalan dengan  ajaran Islam tentang  pemakaian akal pikiran dengan tetap berbegang teguh pada revelation  (al-Qur’an dan sunnah), konsep dan teori ekonomi Islam sesungguhnya merupakan respon cendekiawan muslim terhadap berbagai tantangan ekonomi yang dihadapi.

Secara metodologis, ilmu ekonomi Islam menempatkan rasio sebagai elemen dalam  ketika berbicara tentang wahyu (Zuber Hasan, 1998: 11). Artinya,  ekonomi Islam di samping memberdayakan akal dalam memahami dan mempertajam  pesan-pesan wahyu juga memberikan tempat pada  penggunaan akal murni dalam memecahkan problem ekonomi yang dihadapi. Hal ini berbeda dengan ilmu ekonomi Barat yang mengabaikan wahyu. Intelek (akal)  adalah suatu media yang dapat mentransendensikan realitas   alam dan sosial. Perbandingannya, Islam memandang alam bukan semata-mata objek yang dapat  dieksploitasi  bagi kepentingan manusia semata akan tetapi dapat dijadikan bukti adanya Tuhan. Bagi rasionalisme Barat, alam adalah obyek yang dieksploitasi untuk kepentingan manusia semata. Dengan demikian akal memiliki komitmen keimanan dan dapat menumbuhkan rasa keindahan, cinta, berbuat baik (ihsan) dan pengorbanan (Zuber Hasan, 1998: 12).

Dengan kata lain, memakai konsep tindakan rasional Weber, yang membagi tindakan  rasional menjadi dua (Doyle Paul Johnson, 1994: 220-221),  rasionalitas instrumental (Zweckrationalitat) seperti yang  diterapkan rasionalisme  ekonomi Barat ; dan rasionalitas yang berorientasi nilai (Wertrationalitat), di mana alat-alat hanya merupakan obyek pertimbangan dan perhitungan yang sadar, sementara tujuan-tujuannya sudah ada dalam hubungannya dengan nilai-nilai individu yang bersifat absolut. Komitmen terhadap nilai-nilai sedemikian besar sehingga bisa jadi pertimbangan rasional mengenai utility, efisiensi dan sebagainya tidak relevan. Ekonomi yang didasarkan pada akal dan wahyu sekaligus, agaknya masuk dalam tindakan rasional yang berorientasi nilai ini. Meskipun rasionalitas ekonomi Islam dapat dikategorikan dalam rasionalitas yang berorientasi nilai, namun  pertimbangan-pertimbangan utilitas, efisiensi dan lain-lain tetap menjadi pertimbangan sesuai prinsip-prinsip al-Qur’an dan sunnah maupun logika akal sehat dalam berekonomi.

Adapun nilai-nilai bukan saja menjadi komitmen dalam melakukan tindakan (aktifitas ekonomi) akan tetapi menjadi acuan analisis dalam ilmu ekonomi Islam. Nilai-nilai yang dimaksud adalah nilai-nilai  yang terdapat dalam ayat-ayat al-Qur’an dan Sunnah (Mohammad Anas Zarqa, 1992: 54).  Revelation  (al-Qur’an dan Sunnah) setidaknya memberikan  tiga  fungsi bagi ilmu ekonomi  Islam. Pertama, bahwa dasar sistem ekonomi Islam  diambil dari Qur’an, Sunnah, fiqh, dan keilmuan Islam lain yang berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah. Kedua,  al-Qur’an dan Sunnah adalah sumber nilai dalam analisis, dan ketiga, di dalam al-Qur’an  dan Sunnah, bukan saja   terdapat informasi tentang  halal dan haram, akan tetapi juga terdapat informasi positif  tentang hubungan variabel-variabel ekonomi (ibid), misalnya tentang pengaruh  peningkatan kesejahteraan dan pendapatan  bagi perilaku manusia.

Dalam perhitungan rasio, seseorang yang membayar zakat berarti mengurangi hartanya, dan orang yang mendapat perolehan bunga berarti menambah hartanya, namun perhitungan demikian  berarti perhitungan rasio yang tidak bisa menangkap kebenaran wahyu. Akal/rasio  (intelek)  Islam adalah akal yang dapat memahami bahwa membayar zakat/ bersedekah berarti  mendapatkan kebaikan (pahala yang berlipat ganda) (Zuber Hasan, 1998: 12-13).

Manusia adalah  sebaik-baik makhluk yang memiliki ruh ilahi (QS 95:4; 15: 28-29) dan diberi akal (intelek). Apabila manusia mampu memberdayakan akal secara penuh maka ia akan dapat  memahami peranannya dan dapat menjalankan perannya secara tepat. Dengan itu ia dapat menjadi khalifah dan hamba Allah yang dapat memikul amanah untuk mengelola dunia  sesuai dengan kehendak Allah SWT (Mohamed Aslam Mohamed Haneef, 1997: 45-46). Dengan demikian tindakan rasional seorang muslim (‘ibadur-Rahman) dalam ekonomi adalah tindakan  yang sesuai dengan prinsip-prinsip syari’ah yang memiliki tujuan untuk membentuk masyarakat yang adil. 

Berdasarkan deskripsi di atas agaknya menjadi jelas  bahwa rasio merupakan elemen dalam ketika berbicara tentang wahyu. Artinya antara keduanya ada titik temu yang saling berhubungan. Ha ini berbeda dengan  konfrontasi wahyu dan rasio  atau  antara agama dan ilmu pengetahuan. Seperti Immmanuel Kant (1724-1804) yang sangat dipengaruhi oleh ilmu pengetahuan Newtonian dengan metode observasi-empiris, beranggapan bahwa  dalam metode ilmu pengetahuan hanya memberi ruang yang terbatas pada kepercayaan agama. Wilayah agama ada pada wilayah moral saja. Karena itu meskipun aturan alam dan moral sama-sama bersifat rasional, namun merupakan wilayah yang berbeda. Dia memberikan kompromi antara keduanya, dengan mengatakan bahwa dalam wilayah fenomena, ilmu pengetahuan sangat kompeten dan dapat diterapkan secara universal, sementara fungsi kepercayaan agama bukan untuk memperluas penjelasan ilmiah, tetapi  untuk menjelaskan kehidupan moral dengan menghubungkan dengan realitas akhir (Ian G.Barbour, 2006: 101-106). Hampir senada, John Locke (1632-1704) berpendapat bahwa wahyu hanya berperan secara marginal dan subordinat dalam ilmu pengetahuan, sebab ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui proses reasoning hasilnya lebih meyakinkan ketimbang pengetahuan yang diperoleh melalui wahyu (Louay Safi, 2006: 134-137). Dua pemikir tersebut menggambarkan secara umum, adanya penolakan Barat terhadap wahyu, termasuk dalam pemikiran ekonomi.

E.Penutup

Dari pembahasan di atas bisa disimpulkan bahwa  akal dalam Islam adalah daya berfikir yang  ada dalam diri manusia agar dimanfaatkan sebaik-baiknya dalam menjalani perannya sebagai manusia dan khalifah. Akal dapat digunakan untuk memahami realitas alam  secara transenden dan mengatasi problem yang dihadapi manusia. Di samping itu akal juga dapat lebih mempertajam pemahaman terhadap pesan-pesan wahyu.

Sementara itu, dalam ilmu ekonomi Islam, sebagai ilmu tentu saja memberdayakan dan mendasarkan pada kerja akal namun dalam analisis-analisisnya  menyertakan  nilai-nilai yang bersumber dari al-Qur’an dan Sunnah. Wallahu a’lam.
selengkapnya @ Fakultas Ushuluddin

Thanks for coming

Thanks for coming
Terima kasih sudi hadir

Tajuk - Title