Jan 5, 2013

Janji Promise - Hukum



Janji - Promise
Hukum 
======================

Janji Dikota
Ustaz Kazim Elias dan Ustaz Haslin

======================

Hukum menepati janji

PERTANYAAN:

Ustadz Pengasuh yang mulia
Assalamu’alaikum Wr. Wb.

Bersama ini saya ingin menanyakan tentang hukum menepati janji. Soalnya, dalam kehidupan kita sekali kita dapati orang-orang lupa memenuhi janji setelah mengikat janji, yang terkadang juga diperkuat dengan sumpah. Banyak hal memang yang menyangkut dengan masalah janji ini, namun iangin saya peroleh jawaban dari ustadz adalah hukum menepati janji menurut pandangan Syariat Islam.

Atas perhatian dan jawabannya saya ucapkan banyak terima kasih.

Nuriah Hasan
Aceh Utara

JAWABAN:

Saudari Nuriah Hasan, Yth,
Walaikumussalam, wr. Wb.

Hukum berjanji adalah boleh (jaiz) atau disebut juga dengan mubah. Tetapi hukum memenuhi atau menepatinya adalah wajib. Melanggar atau tidak memenuhi janji dalah haram dan berdosa. Berdosanya itu bukan sekadar hanya kepada orang yang kita janjikan tetapi juga kepada Allah swt. Dasar dari wajibnya kita menunaikan janji yang telah kita janjikan antara lain adalah:

a. Perintah Allah dalam Alquran Al-Karim, surat An-Nahl, ayat 91: “Dan tepatilah perjanjianmu apabila kamu berjanji dan janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah itu, sesudah meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang kamu perbuat.”

b. Menunaikan janji adalah ciri orang beriman, sebagaimana diungkapkan Allah dalam surat Al-Mukminun. Salah satunya yang paling utama adalah mereka yang memelihara amanat dan janji yang pernah diucapkannya. FirmanNya: “Telah beruntunglah orang-orang beriman, yaitu orang-orang yang memelihara amanat-amanat dan janjinya.”

c. Ingkar janji adalah perbuatan setan untuk mengelabui manusia, maka mereka merasakan kenikmatan manakala manusia berhasil termakan janji-janji kosongnya itu. Allah berfirman dalam surat An-Nisa, ayat 120: “Syaitan itu memberikan janji-janji kepada mereka dan membangkitkan angan-angan kosong pada mereka, padahal syaitan itu tidak menjanjikan kepada mereka selain dari tipuan belaka.”

d. Ingkar janji adalah sifat Bani Israil. Ingkar janji juga perintah Allah kepada Bani Israil, namun sayangnya perintah itu dilanggarnya dan mereka dikenal sebagai umat yang terbiasa ingkar janji. Hal itu diabadikan di dalam Al-Quran Al-Karim: “Hai Bani Israil, ingatlah akan nikmatKu yang telah Aku anugerahkan kepadamu, dan penuhilah janjimu kepadaKu, niscaya Aku penuhi janjiKu kepadamu dan hanya kepadaKu-lah kamu harus takut.”

Dari uraian di atas, jelaslah bahwa hukum menepati janji adalah wajib. Dalam ungkapan bahasa Melayu, ada peribahasa: Sekali lancung ujian, seumur orang tidak akan percaya lagi. Malah mengingkari janji adalah salah satu sifat orang munafik. Rasulullah bersabda: “Tanda orang-orang munafik itu ada tiga keadaan. Pertama, apabila berkata-kata ia berdusta. Kedua, apabila berjanji ia mengingkari. Ketiga, apabila diberikan amanah (kepercayaan) ia mengkhianatinya.” (HR Bukhari dan Muslim).

Meskipun demikian, sebagai agama yang adil selalu memperhatikan situasi dan kemampuan seseorang, sehingga ada beberapa situasi yang merupakan pengecualian dari hukum tersebut, antara lain adalah:

1. Karena dipaksa. Gara-gara dipaksa bisa menjadi alasan yang memperbolehkan seorang Muslim untuk membatalkan janji yang ia buat, seperti seseorang yang ditahan atau dicegah sehingga ia tidak bisa memenuhi janjinya, atau seseorang yang diancam dengan hukuman yang menyakitkan.

Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah memaafkan kepada umatku dari kesalahan yang tidak disengaja, lupa atau yang dipaksakan atasnya.” (Diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Hibban, Hakim dan Ibnu Majah)

2. Berjanji untuk melakukan sesuatu perbuatan yang haram atau tidak melakukan yang hukumnya wajib. Barangsiapa yang berjanji kepada seseorang bahwa ia akan melakukan perbuatan yang haram untuknya, atau ia tidak akan melakukan sesuatu yang hukumnya wajib, maka diperbolehkan baginya untuk tidak memenuhi janji tersebut.

3. Betul-betul tidak mampu. Jika terjadi suatu kejadian yang tidak diduga sebelumnya dan menimpa orang yang berjanji, seperti sakit, kematian saudaranya atau transportasi yang bermasalah dan alasan-alasan lainnya, maka situasi tersebut mungkin bisa menjadi alasan yang tepat apabila dia tidak bisa memenuhi janjinya, sesuai dengan firman Allah swt: “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (Al-Baqarah: 286)

Demikian, Wallahu a’lamu Bish-Shawaab.

Editor : bakri

sumber saya : Serambi Indonesia




=========================

The signs of a hypocrite are three


حَدَّثَنَا سُلَيْمَانُ أَبُو الرَّبِيعِ، قَالَ حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيلُ بْنُ جَعْفَرٍ، قَالَ حَدَّثَنَا نَافِعُ بْنُ مَالِكِ بْنِ أَبِي عَامِرٍ أَبُو سُهَيْلٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم قَالَ ‏ "‏ آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلاَثٌ إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ ‏"‏‏.


 Sahih Bukhari Book: 2, Hadith: 33
The Translation:

Narrated Abu Huraira:

The Prophet said, "The signs of a hypocrite are three:

1. Whenever he speaks, he tells a lie.

2. Whenever he promises, he always breaks it (his promise ).

3. If you trust him, he proves to be dishonest. (If you keep something as a trust with him, he will not return it.)"
 
Chain(0) ► Sulaiman bin Da'ud al-'Atki al-Zahrani ——» Isma'il bin Ja'far bin Abi Kathir ——» Nafi' bin Malik bin Abi 'Amir ——» Malik bin Abi 'Amir ——» Abu Hurairah

==========================

What are the situations in which a promise may be broken?

We know that breaking promises is one of the attributes of the hypocrites, but if a Muslim is unable to keep his promise for some reason that is beyond his control, is he regarded as doing something haraam and as having one of the attributes of the hypocrites, or is he excused?.

Praise be to Allaah.

Undoubtedly keeping promises and keeping one’s word are attributes of the believers, and breaking promises is one of the attributes of the hypocrites, as was narrated from ‘Abd-Allaah ibn ‘Amr (may Allaah be pleased with him) that the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said: “There are four (characteristics), whoever has them is a hypocrite, and whoever has one of the four has a characteristic of hypocrisy unless he gives it up: when he speaks, he lies; when he makes a promise he breaks it; what he makes a pledge he betrays it; and when he disputes he resorts to foul language.” Narrated by al-Bukhaari, 2327; Muslim, 58.

The believer who makes promises to people and breaks his promise may have an excuse or he may not. If he has an excuse then there is no sin on him, but if he does not have an excuse then he is a sinner.

There is no text – as far as we know – that makes any exception regarding the prohibition of breaking promises, but it may be that promises are broken in situations where the believer is excused. For example:

A – Forgetting

Allaah has forgiven us for forgetfulness whereby obligatory actions are omitted or haraam actions are committed. Allaah says (interpretation of the meaning):

“Our Lord! Punish us not if we forget or fall into error”

[al-Baqarah 2:286]

And Allaah has said: “Yes.” – Narrated by Muslim, 125, from the hadeeth of Abu Hurayrah. According to another version, He said: “I will do that.” Narrated by Muslim, 126, from the hadeeth of Ibn ‘Abbaas.

Whoever makes a promise to someone then forgets the promise or forgets to do it at the time stated, there is no sin on him.

B – Being forced to break one’s promise.

Being forced is one of the impediments that make it permissible for a Muslim to break his promise, such as one who is detained or is prevented from fulfilling his promise, or who is threatened with a painful punishment.

It was narrated from Ibn ‘Abbaas that the Prophet (peace and blessings of Allaah be upon him) said: “Allaah has forgiven my ummah for their mistakes, what they forget and what they are forced to do.”

Narrated by Ibn Maajah, 2045, and this hadeeth has many corroborating reports; classed as saheeh by Shaykh al-Albaani in Saheeh al-Jaami’, 1836.

C – A promise to do something haraam or not to do something obligatory.

Whoever promises someone that he will do something haraam for him, or that he will not do something that is obligatory, it is not permissible for him to fulfil that promise.

This may be supported by the hadeeth of ‘Aa’ishah – which is also known as the hadeeth of Bareerah – which is narrated in al-Saheehayn. ‘Aa’ishah (may Allaah be pleased with her) had promised Bareerah’s former masters [?} that the wala’ of Bareerah [the right to inherit from her when she died – which is the right of the one who sets a slave free – Translator] would belong to them even though ‘Aa’ishah (may Allaah be pleased with her) was the one who was going to set Bareerah free. But she did not keep this promise because they had gone against the sharee’ah and they knew that the right of wala’ belonged to the one who set the slave free, so how could ‘Aa’ishah set her free and then the wala’ of Bareerah belong to them?

Al-Shaafa’i said:

When news of that reached them, the one who had stipulated a condition that was contrary to the ruling of Allaah and His Messenger was a sinner, and there are hudood punishments and discipline for the sinner. One of the ways in which the sinners are disciplined is that their conditions are rendered null and void so as to deter them and others from doing likewise. This is one of the best forms of discipline.

Ikhtilaaf al-Hadeeth, p. 165.

D – If something unforeseen happens to the one who made the promise, such as sickness, the death of a relative or breakdown of his means of transportation, etc.

There are many excuses, which all come under the heading of the verse (interpretation of the meaning):

“Allaah burdens not a person beyond his scope”
[al-Baqarah 2:286]

And Allaah knows best.

Fatwa 30861

more Fatwa on Promise @ Islam Q&A

================

Person in debt tells lies whenever he speaks
and breaks promises whenever he makes


حَدَّثَنَا أَبُو الْيَمَانِ، قَالَ أَخْبَرَنَا شُعَيْبٌ، عَنِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ أَخْبَرَنَا عُرْوَةُ بْنُ الزُّبَيْرِ، عَنْ عَائِشَةَ، زَوْجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَخْبَرَتْهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَدْعُو فِي الصَّلاَةِ ‏"‏ اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَسِيحِ الدَّجَّالِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَفِتْنَةِ الْمَمَاتِ، اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْمَأْثَمِ وَالْمَغْرَمِ ‏"‏‏.‏ فَقَالَ لَهُ قَائِلٌ مَا أَكْثَرَ مَا تَسْتَعِيذُ مِنَ الْمَغْرَمِ فَقَالَ ‏"‏ إِنَّ الرَّجُلَ إِذَا غَرِمَ حَدَّثَ فَكَذَبَ، وَوَعَدَ فَأَخْلَفَ ‏"‏‏.‏ وَعَنِ الزُّهْرِيِّ، قَالَ أَخْبَرَنِي عُرْوَةُ، أَنَّ عَائِشَةَ ـ رضى الله عنها ـ قَالَتْ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم يَسْتَعِيذُ فِي صَلاَتِهِ مِنْ فِتْنَةِ الدَّجَّالِ


 Sahih Bukhari Book: 10, Hadith: 833
The Translation : 

Narrated `Aisha: (the wife of the Prophet) Allah's Apostle used to invoke Allah in the prayer saying "Allahumma inni a`udhu bika min `adhabi l-qabr, wa a`udhu bika min fitnati l-masihi d-dajjal, wa a`udhu bika min fitnati l-mahya wa fitnati l-mamat. Allahumma inni a`udhu bika mina l-ma'thami wa l-maghram. (O Allah, I seek refuge with You from the punishment of the grave, from the afflictions of the imposter- Messiah, and from the afflictions of life and death. O Allah, I seek refuge with You from sins and from debt)." Somebody said to him, "Why do you so frequently seek refuge with Allah from being in debt?" The Prophet replied, "A person in debt tells lies whenever he speaks, and breaks promises whenever he makes (them)." `Aisha also narrated: I heard Allah's Apostle in his prayer seeking refuge with Allah from the afflictions of Ad-Dajjal.
 

================

Tepati janji dan persoalaannya dalam Islam
Ustaz Zainudin Hashim

Orang yang memungkiri janji termasuk dalam kategori manusia yang dilabelkan sebagai talam dua muka, tindakan itu dilarang keras oleh baginda Rasulullah s.a.w., justeru mereka yang terbabit dalam kategori ini jelas disebut sebagai golongan munafik, wal 'iyazu billah.

Ia sebagaimana sabda Nabi s.a.w. yang bermaksud: Empat ciri jika seorang Muslim itu memilikinya, maka dia menjadi seorang munafik tegar melainkan selepas itu dia meninggalkannya:


"Jika diberikan sesuatu amanah dia cabulinya, jika dia bercakap dia berdusta, jika dia berjanji dia memungkirinya dan jika dia bertelingkah dia celupar."

Jelas daripada apa yang ditegaskan Nabi melalui hadis tersebut di atas, membayangkan kepada kita betapa memungkiri janji adalah satu perbuatan negatif yang melayakkan seseorang Muslim itu digelar munafik, apa yang membimbangkan kita ialah golongan munafik ditempatkan Allah di bawah sekali dalam api neraka, tempat yang paling dekat dengan api yang membakar.

Sesungguhnya apabila seseorang Muslim itu mampu menunaikan sesuatu janji terhadap saudara Muslimnya yang lain, maka sebenarnya dia telah melakukan satu tuntutan agama yang amat besar dalam hidupnya, malah dia berhak mendapat naungan daripada Allah dalam segenap aktiviti kehidupan hariannya sebagai Muslim yang baik.

=======================

Fulfilling Promises, Swearing by Allah
Sheikh Yaser Birjas

=======================

Hukum memungkiri janji melibatkan perkahwinan

Soalan:
apakah hukum memungkiri janji pada seseorang sekiranya janji itu melibatkan perkahwinan ? maksud saya,teman lelaki saya berjanji untuk mengahwini saya dan saya telah berjanji untuk mengahwininya tetapi saya mahu menamatkan perhubungan kami kerana ciri2 dirinya tidak menepati pilihan saya.

Jawapan:
Menunaikan janji adalah wajib. Sesiapa yang tidak menunaikan janji adalah munafik berdasarkan firman Allah yang bermaksud "sempurnakanlah janji-janji kamu" dan hadis Nabi yang bermaksud "Diantara tanda-tanda munafik ialah tidak menunaikan janji". Konsep janji adalah sama tanpa mengambil kira ianya melibatkan hal perkahwinan atau apa-apa sahaja. Oleh itu tepatilah janji dan kotakanlah apa yang di katakan.

Nota:
1. Jawapan kepada soalan disediakan oleh Panel Kemusykilan Agama, JAKIM
2. Jawapan yang diberi adalah berdasarkan Mazhab Shafie kecuali dinyatakan sebaliknya.

sumber ni saye petik dari JAKIM: baheis.islam.gov.my

sumber Islam Browser : nurulhudajumri.blogspot.com

=============================

An Advice Song 
Jangan Berjanji
by Jasni


*******

Disedekahkan pahala bacaan Al-Fatihah ini buat Arwah Jasni
Semoga roh beliau di kurniakan  rahmat oleh Allah
Semoga beroleh kemudahan dan kesejahteraan di sana

Al Fatihah





Thanks for coming

Thanks for coming
Terima kasih sudi hadir

Tajuk - Title