Jan 1, 2013

Mengkafirkan Orang - Hukum dan Fatwa


MENGKAFIRKAN SESAMA MUSLIM
Dr. Yusuf Al-Qardhawi

Pertanyaan:

Paham yang menamakan dirinya "Jamaah Attakfir," "Jamaah Alhijrah," "fundamentalis Islam" dan sebagainya, mereka beranggapan bahwa orang yang melakukan dosa besar dan tidak mau berhenti dicap kafir. Sebagian lagi beranggapan bahwa orang-orang Islam pada umumnnya tidak Muslim, salat mereka dan ibadat lainnya tidak sah, karena murtad. Bagaimana pendirian dan pandangan Islam terhadap mereka ?

Jawab:

Hal tersebut amat berbahaya dan telah menjadi perhatian besar bagi kaum Muslimin khususnya, karena timbulnya pikiran yang terlampau ekstrim. Dalam hal ini, saya sudah menyiapkan sebuah buku khusus mengenai masalah tersebut diatas. Saya kemukakan perlunya pengkajian akan sebab-sebab timbulnya pikiran yang ekstrim dan cara-cara menghadapinya, sehingga  dapat diatasi dengan seksama.

Pertama, tiap-tiap pikiran atau pendapat harus dilawan dengan pikiran, pandangan dan diobati dengan keterangan serta dalil-dalil yang kuat, sehingga dapat menghilangkan keragu-raguan dan pandangan yang keliru itu. Jika kita menggunakan kekerasan sebagai alat satu-satunya, maka tentu tidak akan membawa faedah.

Kedua, mereka itu (orang-orang yang berpandangan salah) umumnya adalah orang-orang baik, kuat agamanya dan tekun ibadatnya, tetapi mereka dapat digoncang oleh hal-hal yang bertentangan dengan Islam dan yang timbul pada masyarakat Islam. Misalnya akhlak buruk, kerusakan di segala bidang, kehancuran dan sebagainya. Mereka selalu menuntut dan mengajak pada kebaikan, dan mereka ingin masyarakatnya berjalan di garis yang telah ditentukan oleh Allah, walaupun jalan atau pikirannya menyimpang pada jalan yang salah dan sesat karena mereka tidak mengerti.

Maka, sebaiknya kita hormati niat mereka yang baik itu, lalu kita beri penerangan yang cukup, jangan mereka digambarkan atau dikatakan sebagai binatang yang buas atau penjahat bagi masyarakat. Tetapi hendaknya diberi pengarahan dan bimbingan ke jalan yang benar, karena tujuan mereka adalah baik, akan tetapi salah jalan.

Mengenai sebab-sebab timbulnya pikiran-pikiran tersebut adalah sebagai berikut:

1. Tersebarnya kebatilan, kemaksiatan dan kekufuran, yang secara terang-terangan dan terbuka di tengah masyarakat Islam tanpa ada usaha penccgahannya. Bahkan sebaliknya, untuk meningkatkan kemungkaran dan kemaksiatan dia menggunakan agama sebagai alat propaganda untuk menambah kerusakan-kerusakan akhlak dan sebagainya.

2. Sikap para ulama yang amat lunak terhadap mereka yang secara terang-terangan menjalankan praktek orang-orang kafir dan memusuhi orang-orang Islam.

3. Ditindaknya gerakan-gerakan Islam yang sehat dan segala dakwah yang berdasarkan Al-Qur'an dan As-Sunnah. Maka, tiap-tiap perlawanan bagi suatu pikiran yang bebas, tentu akan melahirkan suatu tindakan kearah yang menyimpang, yang nantinya akan melahirkan adanya gerakan bawah tanah (ilegal).

4. Kurangnya pengetahuan mereka tentang agama dan tidak adanya pendalaman ilmu-ilmu dan hukum-hukum Islam secara keseluruhan. Oleh karena itu, mereka hanya mengambil sebagian dan meninggalkan sebagian yang lain, dengan paham yang keliru dan menyesatkan. Keikhlasan dan semangat saja tidak cukup sebagai bekal diri sendiri, jika tidak disertai dasar yang kuat dan pemahaman yang mendalam mengenai hukum-hukum Islam. Terutama mengenai hukum syariat dan ilmu fiqih, maka mereka ini akan mengalami nasib yang sama dengan para Al-Khawarij di masa lampau, sebagaimana keterangan Al-Imam Ahmad.

Oleh karena itu, orang-orang saleh yang selalu menganjurkan untuk menuntut ilmu dan memperkuat diri dengan pengetahuan Islam sebelum melakukan ibadat dan perjuangan, agar teguh pendiriannya dan tidak kehilangan arah.

Al-Hasan Al-Bashri berkata:

"Segala amalan tanpa dasar ilmu, seperti orang yang berjalan tetapi tidak pada tempatnya berpijak (tidak pada jalannya).

Tiap-tiap amal tanpa ilmu akan menimbulkan kerusakan lebih banyak daripada kebaikannya. Tuntutlah ilmu sehingga tidak membawa madharat pada ibadat dan tuntutlah ibadat yang tidak membawa madharat pada ilmu. Maka, ada segolongan kaum yang melakukan ibadat dan meninggalkan ilmu, sehingga mereka mengangkat pedangnya untuk melawan ummat Muhammad saw. yang termasuk saudaranya sesama Muslim (saling berperang tanpa adanya alasan). Jika mereka memiliki ilmu, tentu ilmu itu tidak akan membawa ke arah perbuatan itu."

=========================================================================

FATAWA QARDHAWI, Permasalahan, Pemecahan dan Hikmah
Dr. Yusuf Al-Qardhawi
Penerbit Risalah Gusti
Cetakan Kedua, 1996
Jln. Ikan Mungging XIII/1
Telp./Fax. (031) 339440
Surabaya 60177 
Call Kafir/Disbeliever 
Dr Zakir Naik





=======================

Sahih Muslim
Book 020, Number 4565:
It has been narrated on the authority of 'Arfaja who said: I have heard the Messenger of Allah (may peace be upon him) say: Different evils will make their appearance in the near future. Anyone who tries to disrupt the affairs of this Umma while they are united you should strike him with the sword whoever he be. (If remonstrance does not prevail with him and he does not desist from his disruptive activities, he is to be killed.)

Book 020, Number 4566:

In another version of the tradition narrated on the same authority through a different chains of transmitters we have the words:" Kill him."

Book 020, Number 4567:

It has been narrated (through a still different chain of transmitters) on the Same authority (i. e. 'Arfaja) who said similarly-but adding:" Kill all of them." I heard the Messenger of Allah (may peace be upon him) say: When you are holding to one single man as your leader, you should kill who seeks to undermine your solidarity or disrupt your unity.

=======================

Elakkan Kafir-Mengkafir Sesama Muslim
admin / July 9, 2010

Soalan: Dr Asri, kita baca dalam surat orang Islam mula tuduh menuduh dengan antara satu sama lain sebagai sesat la, kafir la dan bermacam-macam lagi. Boleh tak Dr Asri ulas sedikit perkara ini dalam ruang soal-jawab Dr Asri dalam Sinar Harian?

Aida, Penang.

Jawapan Dr MAZA
Terima kasih Aida. Semoga Allah memelihara lidah kita semua dari kecenderungan cepat mengkafirkan atau menghukum sesat orang lain tanpa alasan yang kukuh. Persoalan kafir dan sesat bukanlah persoalan kecil, ia membabitkan hukuman terhadap akidah seseorang. Walaupun sesat, bukan semestinya menjadi kafir, tetapi itu pun tetap berat di sisi Allah. Berikut beberapa ulasan saya dalam hal ini;

1. Seseorang yang zahirnya muslim hendaklah dianggap kekal atas keislamannya sehingga terbukti secara yakin bahawa telah terbatal akidahnya. Ini atas kaedah syarak ‘Perkara yang yakin tidak boleh dihilangkan oleh syak’. Dalam ertikata lain, syak tidak boleh menghapuskan yakin. Oleh kerana pada keyakinan asal kita seseorang itu muslim, maka dia dianggap muslim dan tidak boleh keislamannya dibatalkan disebabkan hanya sesuatu perkara yang tidak pasti atau syak.

2. Menuduh orang lain dengan tuduhan kafir atau sesat adalah dosa yang besar. Jika kita tahu bahawa seseorang tidak kafir atau sesat atau fasik, tetapi kita sengaja menuduh imannya yang sah itu sebagai kafir atau sesat, atau menuduh dirinya yang tidak fasik itu sebagai fasik, maka tuduhan itu kembali kepada yang menuduh. Sabda Nabi s.a.w:

“Sesiapa yang memanggil orang lain dengan ‘kafir’ atau ‘musuh Allah’ sedang dia tidak begitu, maka tuduhan itu kembali kepadanya (penuduh)”. (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).

3. Namun begitu, kita juga hendaklah sedar, di sana ada batas-batas iman dan kufur. Ini seperti sesiapa yang dengan jelas tanpa sebarang andaian lagi menghina Allah dan RasulNya, maka dia terkeluar dari Islam. Demikian juga jika dia menentang secara jelas tanpa sebarang andaian lagi apa yang ditetapkan oleh Allah dengan jelasnya seperti pegharaman arak, judi, zina dan seumpamanya. Sesiapa yang menghalalkan perkara-perkara tersebut atau menentang pengharaman perkara-perkara tersebut dari segi hukum agama, dalam keadaan sedar dan faham maka dia terkeluar dari Islam.

4. Namun, kita hendaklah berhati-hati apabila menghukum seseorang dengan hukuman murtad atau kufur atau sesat atau seumpamanya. Ini kerana, hukuman umum tidak sama dengan hukuman khusus. Hukum umum menghina hukum Islam yang jelas seperti azan membawa murtad, tetapi individu tertentu yang menghina tidak boleh terus dihukum murtad. Hendaklah dilihat keadaannya, maksud ucapannya, kefahamannya dan berbagai latar yang lain. Mungkin dia tidak bermaksud, mungkin dia tersasul, mungkin dia jahil dan seumpamanya. Kata Syeikh al-Islam Ibn Taimiyyah (meninggal 728H)

“Sesungguhnya ucapan yang menjadikan seseorang itu kufur ialah seperti mengingkari kewajipan solat, zakat, puasa dan haji. Namun, pengucapan itu mungkin kerana khitab (ajaran yang betul dalam perkara tersebut) tidak sampai kepadanya. Jika perkara itu berlaku, dia tidak dianggap kafir. Contohnya, golongan yang baru menganut Islam dan hidup di daerah pedalaman yang jauh sehinggakan syariat Islam tidak sampai kepadanya.” (Majmu’at al-Fatawa, jil: 2, ms: 220.)

5. Maka, tidak boleh dikafirkan seseorang melainkan setengah berlakunya iqamah al-Hujjah iaitu penegakan hujah atau dalil. Setelah didapati dia melanggar batasan Iman dan Islam, hendaklah dijelaskan hakikat ilmu yang sebenarnya dan ditegakkan dalil-dalil yang kukuh kepadanya sehingga dia jelas. Selepas itu, jika dia masih berdegil, dan perkataan atau perbuatan tidak boleh ditafsirkan lagi melainkan membawa kekufuran barulah hukum tersebut boleh dijatuhkan kepadanya. Kata Dr Yusuf al-Qaradawi:

“Hendaklah diberikan perhatian pada apa yang telah diputuskan oleh para ulama muhaqqiqun (penganalisa) mengenai kewajipan membezakan antara peribadi dan jenis dalam isu takfir (kafir mengkafir sesama muslim). Ini bermaksud, sebagai contoh, kita mengatakan golongan komunis kafir, para pemerintah sekular yang membantah hukum syarak atau sesiapa yang menyatakan begini atau menyeru kepada ini, maka dia kafir. Ini semua termasuk hukuman pada jenis.

Adapun berhubung dengan perkara yang berkaitan dengan peribadi seseorang yang dituduh dengan sesuatu, wajib mengambil masa untuk membuat kepastian dan kesabitan tentang hakikat sebenar pendiriannya. Hal ini dilakukan dengan cara menyoal atau berbincang dengannya sehingga ditegakkan hujah, tiada lagi unsur syubhat (keraguan) dan tiada lagi keuzuran untuknya. Syeikh al-Islam Ibn Taimiyah pernah menyebut bahawa perkataan juga boleh menyebabkan kekufuran. Secara umum, orang yang mengucapkannya dihukum kafir. Dengan berkata, sesiapa yang mengucap sekian (sesuatu ucapan yang membawa kepada kufur), maka dia kafir. Tetapi, individu yang mengucapkannya tidak dikafirkan sehingga dibuktikan kekufurannya”. (Al-Qaradawi, Zahirah al-Ghulu fi al-Takfir, ms: 26-27).

6. Dalam hadis Saidina ‘Ali menceritakan :

“Rasulullah telah mengutuskan aku, Abu Martsad dan al-Zubair (kami semua adalah penunggang kuda). Baginda bersabda: Pergilah kamu semua sehingga sampai ke Raudah Khakh. Sesungguhnya di sana ada seorang wanita dari kalangan musyrikin. Dia membawa bersamanya surat daripada Hatib bin Abi Balta`ah kepada musyrikin.

Maka kami pun mengejarnya. Dia menaiki unta seperti yang dikatakan oleh Rasulullah s.a.w. Kami berkata kepadanya: Serahkan surat! Dia menjawab: Kami tidak membawa sebarang surat. Maka kami pun mendudukkan dan memeriksa wanita itu. Namun, kami tidak jumpa sebarang surat. Kami berkata: Rasulullah tidak pernah berdusta, sama ada engkau keluarkan surat tersebut atau kami akan telanjangkan engkau!

Apabila dia melihat kesungguhan kami maka dia pun terus mendapatkan simpulan kainnya. Dia pun mengeluarkan surat tersebut, lalu kami terus membawa surat itu kepada Rasulullah s.a.w. Kata Umar: Wahai Rasulullah, sesungguhnya dia (Hatib bin Abi Balta`ah) telah mengkhianati ALLAH, Rasul-NYA dan orang-orang mukmin. Biarkan aku pancung kepalanya!

Baginda bersabda (kepada Hatib): Apa yang mendorong tindakanmu? Kata Hatib: “Demi ALLAH, bukan aku tidak beriman kepada ALLAH dan Rasul-NYA s.a.w. Tetapi aku ingin mendapatkan bantuan daripada kaum (Quraisy). Dengannya ALLAH akan menyelamatkan keluarga dan hartaku. Tidak ada seorang pun di kalangan sahabatmu yang tidak mempunyai kaum kerabat di sana di mana dengannya ALLAH selamatkan keluarga dan hartanya.

Sabda baginda: Dia benar! Janganlah kamu berkata kepadanya melainkan yang baik. Umar berkata: Sesungguhnya dia telah mengkhianati ALLAH, Rasul-NYA dan orang-orang mukmin, biar aku pancung kepalanya. Baginda bersabda: Bukankah dia di kalangan anggota Perang Badar? Sabdanya lagi: Mudah-mudahan ALLAH melihat pada ahli Perang Badar dan berfirman buatlah apa yang kamu suka. Sesungguhnya telah dijamin untuk kamu syurga atau AKU telah ampuni kamu semua. Maka menangislah Umar seraya berkata: ALLAH dan Rasul-NYA lebih mengetahui”. (Riwayat al-Bukhari).

Lihatlah bagaimana baginda masih bertoleransi dengan keadaan terdesak yang dihadapi oleh Hatib. Baginda tidak terus menghukum sebelum mengetahui keadaannya. Sikap umpama itulah yang dilakukan oleh baginda dalam kes-kes lain.

7. Kita hendaklah warak dalam masalah ini. Jangan terpengaruh dengan golongan yang fanatik yang suka menghukum orang lain dengan hukuman kafir dan sesat atas kepentingan tertentu.

Thanks for coming

Thanks for coming
Terima kasih sudi hadir

Tajuk - Title