Apr 28, 2013

HADDADIYAH DAN PAS - PERSAMAAN ?

HADDADIYAH DAN PAS
Persamaan ?
 _______________


HADDADIYAH

Haddadiyah, yaitu bentuk lain peyusupan pemahaman dari kalangan yang berpandangan takfiriyah ke dalam kalangan Salafiyyin. Takfiriyah itu sendiri maknanya ialah pemahaman sesat yang cenderung mengkafirkan kaum Muslimin di luar komunitasnya hanya karena dosa-dosa yang dilakukannya. Sedangkan haddadiyah berpandangan bahwa seorang Muslim bila telah melakukan perbuatan bid’ah, maka dia dihukumi sebagai ahlul bid’ah dan keluar dari kedudukannya sebagai Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Orang yang pertama kali mengkampanyekan pemikiran ini adalah Abu Abdillah Mahmud bin Muhammad Al-Haddad Al-Masri. Orang ini semula menampilkan diri sebagai thalibul ilmi yang amat tekun menuntut ilmu di majlisnya para Ulama’ seperti As-Syaikh Rabi’ bin Hadi Al-Madkhali dan lain-lainnya. Tetapi dia kemudian menampilkan pemikiran-pemikiran anehnya sebagaimana yang disebutkan diatas.

Keanehan pemikiran haddadiyah itu sesungguhnya terletak pada syubhat (pengkaburan) yang dibuatnya dalam perkara Qa’idah Aamah dengan Qa’idah Ta’yin ketika menghukumi orang yang berbuat / berkata bid’ah atau orang yang padanya terdapat perbuatan / perkataan yang mengandung kekafiran. Dalam pandangan Ahlus Sunnah wal Jama'ah, Qa’idah Aamah itu ialah kaidah umum yang merupakan hukum yang mengikat semua Muslim pria dan wanita. Di mana telah ditetapkan bahwa setiap orang yang berbuat kemusyrikan itu adalah musyrik dan setiap orang yang berbuat kekafiran maka dia itu adalah kafir. Demikian pula hukumnya atas orang yang berbuat bid’ah, maka dia adalah ahlul bid’ah. Tetapi dalam penerapan kaidah ini pada seorang individu yang berbuat atau berkata dengan kekafiran, kemusyrikan dan kebid’ahan, masih ada apa yang dinamakan mawani’ (beberapa penghalang) sebelum suatu vonis ( Mengikut fahaman Islam Browser vonis yang digunakan disini bermaksud "the penalty or punishment" ) dijatuhkan. Adapun mawani’ tersebut adalah sebagai berikut:

1. Pelaku perbuatan / perkataan kufur, bid’ah atau syirik itu dalam keadaan tidak tahu dan belum sampai ilmu padanya. Maka tentu orang yang demikian, tidak bisa dikafirkan atau divonis musyrik atau mubtadi’ (ahli bid’ah).

2. Pelaku perbuatan / perkataan kufur, bid’ah atau syirik itu dalam keadaan terpaksa melakukan berbagai perbuatan itu karena takut dari ancaman pihak lain. Padahal dia meyakini bahwa perbuatan itu adalah kufur, bid’ah, dan syirik. Maka orang yang demikian tidak bisa divonis sebagai orang kafir, musyrik, dan mubtadi’.

Maka bagaimana pula kalau pelaku itu dalam keadaan sekaligus jahil dan terpaksa. Tentu lebih tidak mungkin lagi untuk divonis dengan berbagai vonis-vonis itu. Oleh sebab itu dalam rangka menjatuhkan vonis-vonis tersebut terhadap individu atau kelompok tertentu, haruslah dengan apa yang dinamakan Qa’idah Ta’yin. Yaitu kaidah-kaidah yang harus ditegakkan dalam menjatuhkan vonis-vonis agama terhadap seseorang atau kelompok tertentu. Dalam kaidah ini dijelaskan, bahwa untuk menjatuhkan satu vonis kepada individu atau kelompok tertentu, haruslah dijalankan proses sebagai berikut:

1. Tabayyun (mencari kejelasan) dan tatsabbut (mencari kepastian). Yaitu mencari kejelasan dan kepastian apakah dia telah mengucapkan dan atau mengerjakan amalan kufur, bid’ah atau fasiq.

2. Bila memang benar dapat dipastikan bahwa dia telah mengucapkan dan mengerjakan amalan dan perkataan tersebut, maka harus dijalankan pada individu tersebut upaya iqamatul hujjah (menegakkan hujjah atau argumentasi), menjelaskan tentang kebenaran apa yang datang dari Allah dan Rasul-Nya dan kebatilan segala yang menyimpang dari padanya. Dalam upaya kedua ini akan dapat diketahui, apa sesungguhnya motif pelaku amalan atau perkataan kufur, bid’ah dan maksiat itu. Apakah karena tidak mengerti ketika melakukan atau mengatakannya, atau karena terpaksa, ataukah karena memang benar dia sengaja melakukan dan mengatakannya dalam rangka ingkar kepada Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya. Maka bila didapati bahwa dia melakukan atau mengatakannya karena tidak mengerti, tentu dia harus diajari ilmu agar terhindar dari perkataan dan perbuatan tersebut. Bila karena takut atau terpaksa, maka dia harus dibantu agar terlepas dari ancaman atau keterpaksaannya.

3. Tetapi bila ternyata setelah upaya iqamatul hujjah, pelaku perbuatan atau perkataan kufur dan bid’ah itu memang adalah orang yang mempunyai semangat kekafiran dan kebid’ahan serta penolakan terhadap Iman dan Sunnah Nabi shallallahu ‘alayhi wa alihi wasallam, maka barulah vonis dijatuhkan terhadapnya sebagai orang kafir atau ahlul bid’ah.

Proses iqamatul hujjah itu dilakukan oleh Ulama’ atau Thalibul Ilmi (penuntut ilmu agama) yang mantap keilmuannya dan manhajnya dan proses itu dilaksanakan dalam bentuk dialog ilmiah yang padanya dipatahkan segala kerancuan berfikir tentang Islam dan dibantah pula segala alasan menjalankan kekafiran dan kebid’ahan itu. Perlu diingatkan disini, bahwa dialog ilmiah tersebut adalah dalam rangka nasehat dan dakwah.

Demikian mestinya qa’idah ta’yin yang dikenal dikalangan Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Namun pemahaman haddadiyah mengabaikan qaidah ini. Sehingga mereka yang dijangkiti pemahaman ini akan mencukupkan diri mereka dengan qa’idah aamah dalam memvonis setiap individu atau golongan tertentu sebagai kafir atau ahlul bid’ah. Tentu yang demikian ini akan menimbulkan fitnah besar di kalangan kaum Muslimin, yang diatasnamakan pemahaman Salafiyah. Orang yang tidak tahu akan dengan mudah menganggap bahwa mereka yang membawa pemahaman seperti ini adalah orang-orang Salafiyyin. Jadi kesimpulannya ialah, bahwa Salafiyyin itu adalah gerombolan orang-orang yang suka memvonis orang lain sebagai ahlul bid’ah. Padahal sesungguhnya yang demikian itu bukanlah akhlaq yang diajarkan oleh manhaj Salafy Ahlus Sunnah wal Jama'ah yang agung ini. Manhaj Salafy itu sangat ketat kehati-hatiannya dalam memvonis seseorang atau sekelompok tertentu sebagai kafir atau ahlul bid’ah, sebagaimana para pembaca yang budiman telah mengikuti uraian disini tentang Qa’idah Ta’yin Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Namun kemunculan orang-orang yang berpemahaman haddadiyah ini amat menimbulkan kesan, adanya prahara dalam perjalanan Dakwah Salafiyah, khususnya di Indonesia.

Penutup

Makin banyak orang-orang yang mengaku di atas manhaj Salafi Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Namun akhlaq dan manhaj mereka tidak menunjukkan warna Salafy, bahkan banyak pula yang menunjukkan akhlaq dan manhaj hizbiyah tetapi berbendera Salafiyah Ahlus Sunnah wal Jama'ah. Namun biarlah semua orang mengaku dengan pengakuannya. Hanya Allah Ta’ala jualah yang akan menampakkan apa yang sebenarnya disembunyikan di hati mereka. Bersama perjalanan waktu dan berbagai peristiwa, Allah Ta’ala akan menunjukkan perbedaan antara yang asli dari yang palsu. Yang penting, dakwah Salafiyah harus terus berlangsung. Perjuangan untuk mengentaskan Ummat Islam dari kejahilan tentang agama harus terus bergulir. Upaya menyelamatkan Ummat Islam dari kekafiran, kebid’ahan dan kemaksiatan harus terus dilagakan. Semua itu adalah simbol perjuangan Dakwah Salafiyah, dan dakwah ini tidak pernah membikin prahara di Indonesia atau di bumi manapun. Hanya saja para calo dakwah itu yang sering bikin ribut.

Kalau begitu, biar anjing menggonggong, kafilah Dakwah Salafiyah tetap berlalu menuju ‘Izzul Islam wal Muslimin (kemuliaan Islam dan Kemuliaan Kaum Muslimin).

(Tulisan ini disadur dari Majalah Ilmiah Islamy SALAFY Edisi 04/TH V/1426 H/2005 M)

Sumber : assunnah

PAS








Persamaan ?


Ketulusan Hati 
dalam melihat Yang Benar Bersandarkan
 Ajaran Agama
diperlukan untuk menilainya 

Kasih Hamba pada Tuhan 
dan Kasih Umat Pada Nabinya
bukanlah Hak "Ulamak PAS"
Untuk Mengadilinya

************* 

بسم الله الرحمن الرحيم

In the Name of Allah, the Most Beneficent, the Most Merciful.
Dengan nama Allah, Yang Maha Pemurah, lagi Maha Mengasihani.
حَدَّثَنَا يَحْيَى بْنُ بُكَيْرٍ، حَدَّثَنِي اللَّيْثُ، قَالَ حَدَّثَنِي خَالِدُ بْنُ يَزِيدَ، عَنْ سَعِيدِ بْنِ أَبِي هِلاَلٍ، عَنْ زَيْدِ بْنِ أَسْلَمَ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ، أَنَّ رَجُلاً، عَلَى عَهْدِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم كَانَ اسْمُهُ عَبْدَ اللَّهِ، وَكَانَ يُلَقَّبُ حِمَارًا، وَكَانَ يُضْحِكُ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم، وَكَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم قَدْ جَلَدَهُ فِي الشَّرَابِ، فَأُتِيَ بِهِ يَوْمًا فَأَمَرَ بِهِ فَجُلِدَ، فَقَالَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ اللَّهُمَّ الْعَنْهُ مَا أَكْثَرَ مَا يُؤْتَى بِهِ‏.‏ فَقَالَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم ‏ "‏ لاَ تَلْعَنُوهُ، فَوَاللَّهِ مَا عَلِمْتُ أَنَّهُ يُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ ‏"‏‏.‏

 Sahih Bukhari Book: 86, Hadith: 6867
The English translation 

Narrated `Umar bin Al-Khattab:

During the lifetime of the Prophet there was a man called `Abdullah whose nickname was Donkey, and he used to make Allah's Apostle laugh. The Prophet lashed him because of drinking (alcohol). And one-day he was brought to the Prophet on the same charge and was lashed. On that, a man among the people said, "O Allah, curse him ! How frequently he has been brought (to the Prophet on such a charge)!" The Prophet said, "Do not curse him, for by Allah, I know for he loves Allah and His Apostle."
 
Terjemahan Melayunya
 
Umar bin al-Khattab melaporkan, pada suatu masa ada seorang lelaki bernama Abdullah yang nama jolokannya adalah 'himar' yang bermakna 'si keldai'. Dia seorang yang selalu menyebabkan Nabi Muhammad senyum. Nabi Muhammad pernah mengenakan hukuman sebat kepada Abdullah atas kesalahan meminum arak. Pada suatu hari sekali lagi Abdullah dibawa ke hadapan Nabi Muhammad atas kesalahan minum arak, Nabi pun menyebat dia. Melihat peristiwa itu seorang lelaki berkata, “Ya Allah! Kutuklah dia. Selalu benar dia dibawa ke hadapan Nabi.” Nabi Muhammad berkata, “Jangan kutuk dia, kerana demi Allah, saya tahu dia mencintai Allah dan Rasulnya.” 

Hadith No. 2161 dalam kitab Ringkasan Sahih al-Bukhari.


 Di Pentas Politik
Tuan Guru PAS Seolah-olah
Memungkiri Sifat-sifat yang biasa ada 
pada Ulama Tersohor  

 

Thanks for coming

Thanks for coming
Terima kasih sudi hadir

Tajuk - Title